Gunung Limo Pacitan

Secara geografis Kabupaten Pacitan berada di ujung barat daya Provinsi Jawa Timur. Wilayah di Kabupaten Pacitan berbatasan dengan tiga Kabupaten yaitu Kabupaten Ponorogo di utara, Kabupaten Trenggalek di timur dan Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah) di sebelah barat. Kota Pacitan sebagian besar wilayahnya berupa pegunungan. Salah satu gunung yang cukup terkenal di Kabupaten Pacitan yaitu Gunung Limo. Gunung Limo merupakan salah satu deretan gunung yang berada di sisi timur kota Pacitan yang berjajar dengan beberapa gunung lainya yaitu, Gunung Lanang, Gunung Kukusan, Gunung Gembuk, Gunung Pakis Cakar dan Gunung Limo yang berada di Desa Mantren.

Gunung Limo Secara Administratif terletak di Desa Mantren, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan. Di Desa Mantren ini memiliki tradisi adat budaya yang cukup menarik wisatawan yaitu upacara adat ritual Tetaken. Ritual Tetaken merupakan upacara “bersih desa” yang kini dijadikan agenda tahunan wisata budaya di daerah ini. Digambarkan dalam ritual ini, sang juru kunci Gunung Limo turun gunung bersama para cantriknya yang sekaligus murid-muridnya. Mereka baru selesai menjalani tapa di puncak gunung dan akan kembali ke tengah masyarakat, tak lama setelah itu iring-iringan besar wargapun muncul menyambut para pertapa memasuki area upacara dengan mengenakan pakaian adat Jawa. Barisan paling depan adalah para jawara dan pendekar tempatan mengawal para paraga pembawa panji dan pusaka Tunggul Wulung (Panji Tunggul Wulung, Keris Hanacaraka, Tombak Kyai Slamet, dan Kotang Ontokusumo/Jubah Hitam pertapa).

Sekilas bagaimana tradisi Tetaken ini bermula?
Alkisah, Kyai Tunggul Wulung adalah sosok seorang sakti mandraguna. Bersama Mbah Brayut, ia mengembara dengan tujuan melakukan pengabdian dengan cara menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa atas perintah Mataram setelah bertapa di Gunung Lawu. Namun, dalam perjalanan selanjutnya kakak-beradik ini berpisah. Mbah Brayut memilih tinggal di Sidomulyo, sementara Kyai Tunggul Wulung memilih lokasi yang sepi yaitu di puncak Gunung Limo.

Dikisahkan pula, Kyai Tunggul Wulung adalah orang pertama yang melakukan babat alas di kawasan Gunung Limo. Kelak, bekas hutan yang dibabat itu disebut Desa Mantren. Mantren dari kata “mantri” atau punggawa kerajaan. Diyakini bahwa Kyai Tunggul Wulung adalah seorang pejabat keraton yang ditugasi amanah membabat alas, menjaga kelestarian Gunung Limo dan mendidik masyarakat sekitar.

Selain memiliki tradisi budaya yang unik di Gunung Limo Pacitan ini juga menjadi salah satu tempat yang cocok untuk menikmati view keindahan alam kota Pacitan. Dari ketinggian Gunung Limo inilah Anda bisa melihat landscape panorama di sekeliling kota Pacitan yang berlatar belakang pantai laut selatan. Untuk menikmati keindahan dari atas Gunung limo bukan hal yang mudah, Karena untuk menuju ke Puncak Gunung Limo ini Anda harus melewti jalan setapak dan tebing yang terjal serta Selo Matangkep. Selo Matangkep merupakan sebuah celah sempit diantara batu besar yang hanya cukup dilewati untuk satu orang saja, dipintu masuk Selo Matangkep tersebut dipercaya apabila ada pengunjung yang berniat jahat maka ia tidak akan bisa melewatinya, sementara itu bagi yang berniat baik untuk berkunjung ke pertapaan kendati mustahil ia berbadan besar maupun kecil bisa melewatinya. Selain itu bagi Anda yang hanya ingin melihat keindahan alam Gunung Limo dari kejahuan waktu yang tepat yaitu di Pagi hari, di saat matahari terbit. Matahari terbit berada di atas gunung limo memiliki panca warna yang cukup menarik untuk di pandang.

Karena jalan yang lumayan extrem dan memerlukan keahlian khusus untuk menuju ke puncak Gunung ini maka Gunung Limo masuk dalam kategori wisata minat khusus. Dengan panorama alam yang di suguhkan dari atas puncak gunung ini maka tak heran jika banyak pendaki atau pecinta alam dari berbagai daerah datang ke Pacitan hanya untuk menikmati pesona alam dari atas puncak Gunung Limo.

Rute Untuk menuju ke Kawasan Gunung Limo sangatlah mudah, Bila Anda dari arah pusat kota Pacitan silahkan ikuti jalur utama menuju ke kecamatan kebonagung. Ambil Jalur kiri setelah sampai di Flyover Gayam lalu masuk Desa Mantren ikuti jalan menanjak ke arah Gunung Limo. Karena jalan yang menanjak dan berkelok serta ruas jalan yang tidak terlalu lebar di harapkan Anda untuk berhati-hati. Silahkan parkirkan kendaraan Anda di pelataran Gunung Limo yang sudah di sediakan untuk para pengunjung. Tempat ini jika pada bulan syuro tiba maka akan di sulap menjadi sebuah panggung untuk merayakan upacara adat Tetaken Desa Mantren. Bagi Anda yang hendak bertapa di Gunung Limo ini sebaiknya meminta izin terlebih dahulu kepada sesepuh setempat (Juru Kunci) Gunung Limo untuk mendapatkan pengarahaan.

Related Posts

About The Author

Add Comment

WhatsApp chat Hubungi Kami